Andi Idris Manggabarani Beberkan Trik Sukses Dalam Bisnis

Andi Idris Manggabarani. (foto/ist)

MEGATRENDNEWS – Berniat terjun ke dunia bisnis dan serius membuka usaha? Atau sekadar ikut-ikutan dan latah-latahan? Mantapkan pilihan dan sesuaikan passion agar tidak malah buntung!

Pengusaha kawakan yang sudah lama bergelut di dunia bisnis, Andi Idris Manggabarani (IMB) memberi resep ampuh saat bincang santai usai berolahraga pagi di kawasan Panakukang, Sabtu (14/1).

Resep utamanya adalah memulai sesegera mungkin dan memilih bisnis yang disenangi. Jangan dilatar-belakangi ingin coba-coba atau ikut-ikutan karena dijamin sulit berhasil.

”Syarat pertama untuk memulai bisnis atau usaha adalah kita harus memilih bisnis yang kita senangi, bukan apa yang orang inginkan,” ungkap IMB saat membagi ilmu dan pengalaman praktis menjadi pengusaha di Cafe IKA UNHAS yang akan dilaunching di kawasan ekonomi Pasar Segar, Makassar.

Membagi kiat sukses atau resep oleh IMB ini terjadi secara tidak sengaja karena undangan pagi ke cafe IKA yang sedang dirintis Suharman, Ketua Koperasi dan UMKM IKA Unhas hanya sekadar sarapan nasi kuning sambil melihat lihat bangunan yang akan menjadi kafe IKA Unhas.

”Jadi jumlah yang hadir juga tidak banyak hanya para anggota Pejalan Kaki Harian (PKH) yang dikomandoi Andi Idris manggabarani,” kata Mursalim Thahir yang ikut dalam bincang-bincang santai sambil makan nasi kuning itu.

Menyangkut kebiasaan ikut-ikutan atau mendirikan usaha karena melihat orang lain sukses, IMB yang mengingatkan agar tidak melakukan hal seperti itu.

”Membangun usaha tidak boleh latah, ikut-ikutan orang lain usaha ini, kita juga mau usaha yang sama, karena belum tentu apa yang orang usahakan kita mampu melakukan hal yang sama,” ujar Wakil Ketua Umum yang memiliki akronim IMB.

Anggota PKH yang ikut bersama IMB pagi itu adalah Irwan Ade Saputra, Rahman Pina, Mattewakkan, Syawal Arif, minus Ady Ansar yng sedang tugas negara. Di situ juga ada Bahrianto Bahtiar, Kahar Gani, Poppy, Sudirman Numba, Mursalim Thahir dan tuan rumah Suharman.

Seperti diketahui beberapa pengurus pusat IKA Unhas belakangan ini aktif melakukan olah raga pagi. Mereka menamainya PKH atau pejalan kaki harian yang setiap pagi melakukan aktivitas jalan kaki, melalui rute tertentu. Agar terus termotivasi, Rahman Pina dkk menyesuaikan atribut Jerseynya dengan hari kegiatan.

Pagi itu, kata Mursalim yang biasa disapa Chalink, mereka melalui jalur Kawasan Bisnis Pasar Segar karena ada undangan sarapan nasi kuning di tempat Suharman Usman atau akrab dipanggil Ammank, anak lingustik 89.

SANTAI TAPI PADAT
Bincang bincang di Cafe ini lanjut Chalink mulanya santai dengan topik pembicaraan seputar jalan kaki dan mancing lalu meningkat ke persoalan besi tua di PT IKI yang sebaiknya dijadikan saja rumpon supaya bisa membantu nelayan, dan juga bisa jadi spot mancing.

”Alangkah bagusnya seandainya semua besi besi tua yang tidak terpakai di PT IKI, diserahkan ke IKA, nanti kita jadikan rumpon di spot tertentu, selain membantu nelayan, juga bisa kita jadikan spot mancing, bagi yg hobby mancing. Daripada naambil ki pengusaha besi tua,” kata IMB

Bincang santai menjadi serius saat Kahar Gani yang akrab disapa KG, alumnus Sospol tiba tiba nyelutuk tentang rencana Kafe IKA ke depan?

”Bagemana mi ini kafe pak Ammank, kapan mulai?” tanya KG spontan.

“Inimi sebabnya kita undang Puang Bos, untuk mengajari kita kiat-kiat bisnis UMKM,” kata Ammank, yang pernah mengarungi kerasnya kehidupan Jakarta dan menjadi Manajer SDM Citra Taksi milik Mubha Kahar Muang.

Maka seketika meluncurlah ilmu ilmu bagaimana memulai usaha dari Puang (maksudnya Waketum Andi Idris Manggabarani). Sekira 20 IMB bercerita tentang kiat memulai bisnis UMKM. Apa yang disampaikan pebisnis properti dan perhotelan ini begitu padat dan berisi.

“Ini namanya kuliah Marketing empat semester yang dipadatkan
Intisarinya sudah ada semua,” kata Kahar Gani.

Akhirnya acara makan nasi kuning berubah menjadi kuliah singkat memulai bisnis yang sangat bermanfaat. Acara diakhiri dengan foto bersama, kemudian melanjutkan agenda masing masing (mur-este)

Comment